Minggu, 18 April 2010

kita sedang bangkrut


#1
kau berbicara dua ribu patah kata
di depan audiens yang sepertinya mereka tak
lebih dari sekawanan anjing liar kelabu
maka ayat-ayat keramat terlontar dari mulut busa
terdiri dari gumpalan frase
kemudian membentuk jadi serombongan doktrin
untuk memerangkap urat-urat saraf
tapi sebetulnya mereka hanya butuh sekepal
beras.
#2
bermulalah hikayat tentang masa
si pencerita memasang perangkap publik
ia berdiri di panggung: bersuara. memekik. berteriak. bernyanyi. menyumpahi. dan akhirnya ia berjanji. begitulah ia laku
di siang hari. sedang malam. saat jam 11 menguntit angka 12.
dicelotehi sang istri dengan kedip birahi. peraduan menanti hasrat siang penat. selanjutnya ia bercinta. mendesah dan merapal faktur hutang-hutang yang ada. di puncak orgasme, mulut istri berbunyi:
"sayang, kau hebat. aku hampir nggak kuat. uhmm...nanti setelah cerita abang dibeli orang, jangan lupa tanah bapak yang suratnya kita gadaikan, langsung diambil lagi."
#3
ketika itu langit buram. wajahnya sekasar kasa.
disemaput gelombang awan, diterjang seperangkat angin busuk dari galaksi sesat.
ketika itu kampungku kalut. para alim menyingkir keluar gelanggang sambil berkidung elegi pohon lama yang banyak tumbang. mereka mengurung diri di hutan.
#4
kau berbicara sepatah dua kata:
"gila! aku kalah. "
di rumah. sang istri dihadapi serombongan orang asing berbadan tegap.
sambil tersedu ia berkat: "tolonglah pak. sejak ia kalah kemarin, jiwa bapak labil. ia masih belum bisa berbuat apa-apa. saya yakin minggu depan, bapak akan melunasi semua hutang-hutangnya."
#5
ketika itu kampung laut baru saja di terpa angin puyuh. ketika itu hutan tak mau bersahabat. ketika itu para alim menemui ajal. ketika itu tanah kampung berhawa gurun. ketika itu orang-orang sedang berpikir tentang sekepal beras. ketika itu pemerintah menambah kamar inap rumah sakit jiwa.
ketika itu di pintu pagar istana sang raja tertambat spanduk tertulis: "kita sedang bangkrut!"

0 komentar:

Poskan Komentar